Sumatera Selatan bisa jadi, saat ini dan ke depan akan menjadi salah satu potensi investasi baru di sektor properti. Banyak trigger yang memungkinkan Sumatera Selatan pada akhirnya menjadi salah satu pilihan terbaik para pengembang dan investor yang masuk ke Sumatera Selatan ( Sumsel). Salah satunya adalah positifnya kegiatan MICE yang  tidak pernah sepi di lakukan di Propinsi yang terkenal dengan Jembatan Amperanya.

Setidaknya ada beberapa kondisi yang pada akhirnya membuat Sumatera Selatan makin menunjukkan potensinya sebagai propinsi dengan potensi di sektor properti. (1) Sejak tahun 2015-2016 setidaknya pengembang MBR ( Masyarakat Berpenghasilan Rendah ) di Sumsel telah berhasil membangun 8.000  unit rumah setiap tahunnya.  Kondisi  itu meningkat di tahun 2017 dengan total unit yang di bangun ada 11 ribu unit rumah MBR. Itulah sebabnya Bagus Pranajaya, selaku Ketua DPD REI Sumatera Selatan optimis bahwa di tahun 2018-2019 ini pengembang yang ada di Sumatera Selatan mampu membangun 11 ribu unit rumah MBR dan 1.000  unit rumah komersial.

(2) Dengan kondisi diatas, bagusnya adalah market merespon dengan baik unit perumahan yang di bangun pengembang. Sekalipun kondisinya adalah saat ini di Sumsel justru pembeli yang ada di Sumsel berasal dari konsumen dengan nonfixed income dan swasta.  Sementara Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki masalah klasik yaitu kendala BI Checking.  (3) Terkait dengan maraknya kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). Nyatanya memang hal ini membawa dampak positif terutama terhadap masuknya para investor ke Propinsi Sumatera Selatan.

Isnaini Madani, selaku Dinas Pariwisata Kota Palembang membenarkan Kota Palembang mendapatkan penghargaan khusus The Most Emerging Destination in Indonesia sebagai juara I.  Dimana lanjut Isnaini, hal itu dikarenakan Palembang  mampu menyelenggarakan event baik nasional dan international dengan hasil maksimal seperti Asian Games.

Apa  yang  terjadi di Propinsi Sumatera Selatan pada umumnya dan Palembang pada khususnya memang sejalan dengan kondisi yang saat ini terjadi di Indonesia. Dimana memasuki tahun 2019 hingga semester ke-2, sektor properti sudah menunjukkan kondisi yang lebih  baik dibanding periode yang sama tahun 2018. Dimana menurut analisa dari beberapa pihak, untuk sektor perumahan saja jumlah kapitalisasi-nya berada di angka Rp 110-120 triliun. Wajar jika pada akhirnya bagusnya kondisi ini membawa dampak positif  untuk investor luar negeri.

Jembatan Ampera, Kota Palembang

Berkembangnya kondisi yang ada di pasar properti Indonesia, dimana  tren-nya adalah banyak investor asing mulai masuk dan berencana mengembangkan proyeknya di Indonesia ini sesuai dengan prediksi dan analisa yang di berikan oleh Real Estate Indonesia (REI). Dimana berdasarkan data yang berhasil di himpun, hingga  3 tahun terakhir  menunjukkan adanya total dana  investasi yang akan di kucur-kan oleh pengembang asing mencapai angka yang cukup besar yaitu Rp105 triliun.

Pertama, kondisi membaiknya bisnis real estate yang di dasarkan pada fundamental demografi yang besar. Jika kondisi ini di hubungkan dengan jumlah penduduk Indonesia, jelas besarnya penduduk Indonesia yang berjumlah 267 juta jiwa (2019) adalah sebuah potensi bisnis yang menarik. Sehingga mengundang investor asing untuk masuk ke  Indonesia.

Kedua, pada tahun 2027 penduduk perkotaan di kawasan Asia Pasifik, kondisinya lebih besar 400 juta jiwa. Dimana tren yang mungkin terjadi pada  tahun 2021 adalah bahwa pasar e-commerce di kawasan Asia Pasifik akan mengalami pertumbuhan bisnis mencapai US$ 1,6 triliun. Seperti inilah  pernyataan yang disampaikan oleh James Taylor, Head Research JLL Indonesia. Dengan prediksi tersebut, maka tidak mustahil jika pada akhirnya pasar sektor perkantoran akan menjadi salah satu sektor yang cukup banyak diminati oleh pebisnis properti Asing di Indonesia. Inilah prediksi yang juga di sampaikan oleh Handri terkait kondisi terkini bsinsi e-commerce di Indonesia.

Satu deskripsi menarik yang di sampaikan oleh Handri Kosada, CEO Barantum agaknya bisa menjadi sebuah potensi bisnis baru untuk segera diantisipasi ke depannya. “ Kondisi pasar Asia Pasifik  jelas akan membawa pengaruh positif  bagi industri properti yang ada di tanah air,” begitulah Handri menjelaskan. Dimana  lanjut Handri, khusus untuk sektor E-Commerce misalnya, otomatis pelaku bisnis dalam negeri mesti mempersiapkan dirinya dengan tren perubahan digital teknologi yang begitu cepat. Karena dengan meningkatnya tren belanja model e-commerce membuat sektor pergudangan atau sewa guna lahan untuk pergudangan menjadi meningkat karena banyaknya  permintaan.

TREN INDUSTRI DI KAWASAN ASIA PASIFIK TAHUN 2019 , DI PENGARUHI 5 TREN BISNIS 

Asia pasifik memang kawasan yang bisa menjadi stimulus positif untuk mendongkrak pergerakan sektor properti yang ada di Indonesia. Dimana saat ini setidaknya ada 5 tren bisnis yang sedang terjadi di kawasan  tersebut. (1). Pertumbuhan aset-aset yang terkait dengan “ kehidupan” . (2) Pengembangan ruang kerja yang fleksibel untuk menarik bakat. (3). Bertambah banyaknya pusat logistic dan data (4). Terjadinya perubahan terhadap eksposur utang dan (5). Evolusi kota pintar.

Dengan melihat penjelasan yang ada, memang kita bisa melihat bahwa sedikitnya ada dua point tren bisnis yang sesuai dengan pernyataan  Handri Kosada diatas. (1) Kondisi pasar dengan bertambahnya pusat-pusat logistic dan data baru, hal  ini bisa terjadi karena perkembangan bisnis

 e-commerce. (2) Akan bermunculan-nya kota-kota pintar di Indonesia. Jika kondisi ini terus  di kembangkan maka sudah pasti kebutuhan akan perlunya meningkatkan sistem dan aplikasi berbasis teknologi semakin meningkat. Dan salah satu aplikasi yang bisa meng-akomodir kebutuhan itu adalah CRM dan Call Center.

DUA SOLUSI TERBAIK  UNTUK BISNIS PROPERTI KEDEPAN, SISTEM CRM & CALL CENTER

Berdasarkan Statistik Ekonomi Keuangan  Indonesia, situasi dan kondisi makro ekonomi Indonesia menunjukkan kondisi seperti berikut : telah terjadi peningkatan kredit properti dari Rp795,56 triliun (2018) menjadi Rp 927,35 triliun (2019). Komponen peningkatan yang terjadi lebih banyak untuk sektor Kredit Konstruksi tumbuh 24,69% dari Rp245,48 triliun menjadi Rp306,08 triliun. KPR & KPA tumbuh 13,53% dari Rp411,54 triliun menjadi Rp467,24 triliun. Dan yang terakhir kredit konstruksi sebesar 11,18% dari angka Rp138,54 triliun menjadi Rp154,03 triliun.

Dari apa yang di tunjukan diatas jelas peran customer menjadi salah satu kunci pergerakan dan pertumbuhan  bisnis properti di masa depan. Hal itu di tunjukan dengan semakin meningkatnya angka kredit di sektor properti. Ini makin memperlihatkan bahwa, pada dasarnya kunci utama pengembangan bisnis properti adalah bersumber dari customer. Dan untuk memaksimalkan customer salah satu yang bisa di lakukan adalah dengan meningkatkan status customer menjadi loyalitas customer.

Hingga semester ke-2 tahun 2019, semua pelaku industri properti mesti bergerak cepat. Perlambatan yang  terjadi di dua negara dengan jumlah penduduk besar seperti China dan India. Pada akhirnya memang perlu diantisipasi agar kondisi dalam negeri bisa lebih  baik dari kedua negara diatas.  Karena  itulah salah satu dasar yang pada akhirnya para pelaku bisnis properti luar negeri mencoba peruntungan di Indonesia. Karena mereka melihat perlambatan yang ada di  luar  Indonesia.

Itulah salah satu alasan kenapa Indonesia cukup menarik.  Dan hingga pada akhirnya tercatat ada beberapa negara yang cukup  tertarik untuk bisa masuk ke Indonesia dengan segala potensi bisnisnya untuk mengembangkan bisnis properti di negara yang saat ini berpenduduk 267 juta jiwa yaitu : Hongkong, Australia dan Selandia Baru.

Penulis: Achmad S. F