Banyuasin Online, Palembang – Pemerintah memastikan pembangunan light rail transit (LRT) yang ditujukan untuk menopang sist transportasi di Sumsel dapat selesai tepat waktu. Kepala Pelaksana Zona 2 LRT Waskita Karya Okta Mulia mengatakan, kemacetan kemacetan kemacetan jalan memang tak terhindarkan.

“Kita berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk menyiapkan beragam jalan alternatif untuk pengendara,” ujarnya.

Menurut dia, jalan yang rusak adalah tanggungjawab pihaknya. Sekarang jalan yang rusak karena LRT sudah dibenahi perlahan.

“Memang belum permanen dan jika sudah selesai pengerjaan kerangka bawah tentu diperbaiki secara permanen,” timpalnya.

Dia menambahkan, terkait kondisi cuaca seperti masih ke hujan tak menjadi kendala berarti. Hujan terkadang mengakibatkan bagia kerangka bawah dipenuhi oleh air namun pihaknya memiliki upaya lain. Sehinga lubang yang terpenuhi air dipompa dan dibuang melalui saluran air yang ada di pinggir jalan.

“Jika lubang pada tiang pancang  terisi air, namun teknisnya kita sedot air dengan pompa dan kita buang ke saluran air agar tak membahayakan pengguna jalan,” kata dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatra Selatan Nasrun Umar mengatakan, saat ini untuk pengerjaan kontruksi LRT tersebut sudah masuk 6,04 % dan diprediksi pada 2016 akhir bisa masuk 35%. “Pembangunanya diharap selesai pada 2018 mendatang dimana saat ini pengerjaan terus dikebut sesuai perencanaan,” kata Nasrun.

Dikatakan Nasrun, LRT sepanjang 23 km itu memiliki 13 stasiun dan satu dipo. Yakni Stasiun Bandara SMB II, Stasiun Asrama Haji, Stasiun RSU Provinsi, Stasiun Telkom, Stasiun PS Mall, Stasiun Kantor Dishubkominfo Sumsel, Stasiun Simpang Polda, Stasiun Demang Lebar Daun, Stasiun Pasar Cinde, Stasiun Jembatan Ampera, Stasiun Polresta Palembang, Stasiun Jakabaring, Stasiun OPI Mall, dan Dipo Jakabaring.

“Progresnya kini dalam pembangunan kerangka bawah. PT Waskita Karya selaku kontraktor pembangun proyek akan berupaya keras mengejar target penyelesaian pengerjaan LRT ini,”tukasnya.

Dikatakan dia, pengerjaan LRT itu sesuai dengan Peraturan Presiden No 116 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan kereta api ringan, tertuang semua rencana progres dan pembangunan LRT di Palembang. Diketahui untuk pembangunan LRT itu dialokasikan dari multiyears contract 2016-2018 dari APBN sebesar Rp11,4 triliun guna kontruksi dan supervisi.

Dijelaskan dia, sebanyak Rp7,2 triliun digunakan untuk pembangunan sarana prasana, Rp1,2 untuk pengadaan rel, dan sisa Rp3 triliun untuk kelistrikan, signaling, dan kebutuhan operasional lainnya.

“Nantinya ada dua lokomotif yang masing-masing membawa beberapa gerbong. Satu lokomotif dalam satu kali jalan dapat membawa 800-1.000 penumpang dengan waktu tempuh maksimal dari Bandara SMB II Palembang ke Jakabaring sekitar 45 menit. Dengan adanya LRT, kita optimistis akan mengurangi kemacetan di Palembang. Sebab berdasarkan prediksi jika tak ada upaya mengurai kemacetan, maka Palembang akan alami deadlock pada 2019 nanti,”pungkasnya. (Sindo)