Mengapa pendapatan itu tidak masuk akal ? Bagindo mencontohkan, biaya bedeng atau kos-kosan saja rata-rata minimal Rp 6 juta per tahun yang jelas-jelas belum tentu memiliki nilai dan fungsi ekonomis.
“Masak PD Pasar Palembang kalah dengan dengan pendapatan yang dihasilkan oleh PD Pasar seperti Kota Bekasi, Cimahi, Padang dan Pekan Baru yang rata-rata mampu memberi kontribusi PAD Pasar sekitar Rp 10 miliar per tahun, padahal Kota Palembang lebih besar dan lebih banyak pasarnya,” katanya.
Sambung Bagindo, menjadi hal wajar jika publik bertanya secara kritis atas penghasilan PD Pasar Palembang Jaya tersebut.
“Atas dasar itu, managemen PD Pasar Palembang Jaya harus mampu mempertanggungjawabkannya didepan publik melalui wakil rakyat yang ada di DPRD Palembang,” katanya.
Selain itu, Bagindo menambahkan, untuk lebih mengefektifkan PAD dari sektor Pasar, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, harus segera mengevaluasi akuntabilitas manajemen keuangan dan personal PD Pasar Palembang Jaya dan masukan orang-orang yang profesional,
terampil, berintegritas, transparan dan responsif.












