Palembang, Sumseltoday.com – Banjir yang melanda Kota Palembang akibat cuaca ekstream menjadi yang terparah sejak 31 tahun yang lalu, tak hayal fenomena ini menjadi pertanyaan besar masyarakat Kota Palembang mengenai apa saja yang dilakukan Pemerintah Kota Palembang dalam mengatasi masalah ini.
Hampir seluruh wilayah dilanda banjir dengan total 45 titik banjir dengan kedalaman hingga 1 meter di titik tertentu.
Awalnya, Pemkot Palembang telah merasa cukup percaya diri dengan selesai dibangunnya pompanisasi Sungai Bendung dengan 6 pompa berkapasitas masing-masing 6.000 liter per detik.
Dengan total 36.000 liter perdetik ini diharapkan dapat mengatasi banjir yang sering terjadi terutama area Simpang Polda, R Soekamto, Sekip Bendung dan sekitarnya. Namun, banjir 25 Desember lalu memberikan jawaban ternyata pompa tersebut tidak memompa air sebanyak 36.000 liter per detik.
Walikota Palembang Harnojoyo mengatakan, pompanisasi Sungai Bendung perlu direkonstruksi. Dengan itu baru seluruh kapasitas pompa dapat digunakan dan banjir teratasi.
“6 pompa total kapasitas 36.000 liter perdetik, tapi hanya 2 yang bisa digunakan, harus dilakukan rekonstruksi,” katanya, Selasa (28/12/2021).
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Palembang Ahmad Bastari Yusak mengatakan, pompanisasi Sungai Bendung memiliki kapasitas yang sangat besar.
Dijelaskannya, pompanisasi Sungai Bendung mesinnya besar tapi air yang disalurkan ke Sungai Bendung kecil dan lambat, karena terhambat sendimentasi (di anak sungai dan drainase) dan hambatan di mulut kolam retensi.
“Maka harus direkonstruksi, mulai dari kolam pompa didalami mulutnya diperlebar, memperbesar jembatan supaya tidak menggangu saluran air, dan pengerukan,” katanya.
Bastari mengatakan, pengerukan yang harus dilakukan minimal dasar saluran itu di bawah muka air terendah Sungai Musi. Untuk saluran Sungai Bendung dikeruk 1-2 meter, kolam retensi Sungai Bendungnya dikeruk 4 meter lagi dari kedalaman sekarang 4, jadi 8 meter.
“3 Jembatan yang harus di rekonstruksi di kawasan titik banjir yakni Jembatan PTC, Jembatan Sekip Bendung dan Jembatan Jalan Mayor HM Rasyad Nawawi. Baloknya harus ditinggikan agar air lancar,” katanya.
Persoalan banjir ini nyatanya tidak hanya dari sisi teknis saja yang harus diperbaiki, tetapi juga kebiasaan masyarakat yang harus disadari. Seperti membangun di atas aliran air, menutup drainase dengan bangunan dan membuang sampah sembarangan. Sebab, saat ini ada 200 sumbatan yang juga menyebabkan air tidak mengalir dengan baik.
“Jika beberapa rekonstruksi itu dilakukan, maka air akan mengalir dengan lancar dan 6 pompa di Sungai Bendung dapat digunakan seluruhnya,” katanya,” katanya. (red)












