Indeks

Miris, Oknum Petugas SPBU Tegalsari Diduga Tolak Pinjamkan APAR Saat Motor Terbakar dengan Alasan “Mahal”

SEMARANG, SUMSELTODAY.COM – Sebuah insiden kebakaran sepeda motor di SPBU Tegalsari, Semarang, mendadak viral dan memicu kecaman luas dari netizen. Hal ini dipicu oleh pengakuan pemilik motor yang menyebut pihak SPBU enggan meminjamkan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) saat api mulai berkobar dengan alasan harga alat tersebut mahal.

Peristiwa bermula ketika korban selesai mengisi bahan bakar. Saat mesin dinyalakan (starter), muncul percikan api yang diduga akibat korsleting listrik, yang kemudian dengan cepat melahap bodi kendaraan.

Dugaan Pembiaran oleh Petugas

Melalui unggahan di akun TikTok @relisviano.chiko, korban menceritakan kronologi yang memilukan. Dalam situasi darurat tersebut, ia lari meminta bantuan petugas SPBU agar memadamkan api menggunakan APAR yang tersedia di lokasi.

“Saya lari ke orang-orang pom mohon agar dipadamkan menggunakan APAR, tetapi pihak pom tidak boleh dengan alasan mahal, alias dipersulit,” tulis korban dalam unggahannya yang viral tersebut.

Bukannya memberikan tindakan pemadaman sigap, petugas dilaporkan justru sibuk meminta korban menjauhkan motor dari area pompa. Ironisnya, APAR baru dikeluarkan dan digunakan setelah motor hangus terbakar dan hanya menyisakan rangka saja.

Kepolisian Turun Tangan

Pihak kepolisian segera mendatangi lokasi setelah menerima laporan warga terkait keributan tersebut. Berdasarkan keterangan korban, polisi menyarankan agar dibuat laporan resmi ke polsek terdekat karena adanya unsur kelalaian atau tindakan mempersulit dalam situasi darurat di objek vital.

“Kata polisi, pihak pom akan kena karena mempersulit. Orang-orang di pom lihat saja tanpa bantuin atau usaha,” ungkap korban dengan nada kecewa.

Hingga berita ini diturunkan, unggahan tersebut telah mendapat ribuan komentar dari netizen yang mempertanyakan Standar Operasional Prosedur (SOP) keselamatan di SPBU Tegalsari. Publik mendesak pihak manajemen dan Pertamina untuk menindak tegas oknum yang dinilai mengabaikan faktor keselamatan pelanggan di area berisiko tinggi tersebut.

Exit mobile version