Ditengah gempuran teknologi di era digital, generasi muda harus dikenalkan pada habitat aslinya, terlebih, di era globalisasi mereka harus memiliki daya saing. Di kampung-kampung sudah terjadi perubahan kepemilikan lahan. Apabila tidak disadari, ke depan, bangsa Indoensia mengalami krisis.
Hal itu berbeda dengan tahun 1998, menurut Rachmad, bangsa Indonesia masih bisa bertahan karena mampu menjaga transaksi ekonomi serta mampu memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan.
”Banyaknya pergeseran, kalau sumber daya alam menipis, harga pangan lebih mahal, maka ke depan kita tidak akan bisa bertahan dengan krisis. Pada tahun 1998, kita masih terbantu oleh kaum tradisi yang masih menyimpan uang di celengan, transaksi ekonomi masih terjaga serta rakyat hidup dengan alam,” tutur politisi partai Golkar ini.
Terahir Rachmad mengungkapkan, Bahwa Hari Sumpah Pemuda tidak akan bermakna, manakala tanah dan air kita sudah bergeser kepemilikannya, serta dilupakannya bahasa daerah sebagai karakter dan identitas diri.
