
Zaman sekarang di mana semua hal dapat diakses dari gawai, muda, tua bahkan belia tidak terelakan dari daya tarik smartphone. Banyak aplikasi bisa dinikmati dalam genggaman, siapa yang tidak tertarik menikmati kemudahan demi kemudahan di dalamnya? Hal tersebut dapat membawa dampak yang kurang baik sehingga perlu adanya kegiatan yang bisa dilakukan agar tidak kecanduan media sosial.
Dua tahun terakhir anak-anak di bawah usia 12 tahun tidak terpisahkan dari gawai, semenjak kegiatan belajar mengajar dilakukan secara daring, dunia anak-anak tidak lagi seputaran berlarian saling mengejar sesama teman, sebagian waktu mereka habiskan dengan berselancar di dunia maya. Ditambah lagi semakin maraknya aplikasi media sosial menyenangkan, bebas mengekspresikan diri, tanpa repot harus menggunakan aplikasi edit dan sejenisnya.
fitur smartphone yang cukup satu kali klik saja bisa menampilkan video bagus, dilengkapi dengan filter maha sempurna, mampu menutupi jerawat juga dosa. Sangat menyenangkan bukan, bisa tampil glowing sesuai harapan semua orang, menuai banyak pujian setelahnya, sangat memabukkan.
Media sosial yang merupakan candu memang fakta yang tidak dapat terelakkan, pagi buta saat mata terbuka tujuan utama adalah gawai. Sampai mata menutup kembali pada malamnya, gawai masih tergenggam erat di tangan penggunanya. Dampak tersebut sangat dahsyat pada emosi manusia yang cenderung kurang stabil.
Perhatikan perubahan kebiasaan pada anak-anak, beberapa waktu lalu media nasional menuliskan ciri-ciri kecanduan pada anak, ulasannya sebagai berikut.