Samsudin mengatakan bahwa salah satu inovasi utama dalam metode SAM-SAKTI ini yaitu system persemaian berbasis mekanisme pasang surut air laut. Menurutnya, melalui metode ini, bibit memperoleh suplai air secara alami tanpa penyiraman manual sehingga lebih adaptif terhadap kondisi lapangan, efisien dalam pemeliharaan, serta menghasilkan bibit yang lebih tangguh ketika ditanam di kawasan rehabilitasi.
Meski demikian, tantangan utama yaitu siapa yang akan membeli bibit mangrove tersebut. Oleh karena itu, kelompoknya secara aktif membangun kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, dan berbagai program rehabilitasi lingkungan agar produksi bibit dapat terserap secara optimal.
PTBA berharap, melalui peresmian NUSA ini kapasitas pembibitan mangrove berbasis masyarakat semakin meningkat dan nantinya dapat mendukung berbagai program rehabilitasi yang dijalankan Perusahaan untuk pesisir di Indonesia.
“Kami berharap NUSA menjadi pusat pembelajaran, inovasi, sekaligus inspirasi bagi kelompok masyarakat lainnya untuk bersama-sama menjaga ekosistem pesisir Indonesia,” tutup Ajis.
