Jokowi mengakui, bahwasanya posisi Presiden itu tidak senyaman yang dipersepsikan, ada tanggung jawab besar yang harus diemban. Banyak permasalahan rakyat yang harus diselesaikan dan dengan adanya media sosial seperti sekarang ini, apapun bisa disampaikan kepada Presiden. Mulai dari rakyat dipinggiran sampai kemarahan, sampai ejekan, bahkan makian dan fitnahan bisa dengan mudah disampaikan dengan media sosial.
“Saya tau ada yang mengatakan saya ini bodoh, plongo plongo, tidak tahu apa apa, Fir’aun, tolol. Ya Ndak papa sebagai pribadi saya menerima saja. Tapi, yang saya sedih budaya santun dan budi pekerti luhur bangsa ini, kok kelihatan mulai hilang, kebebasan dan demokrasi digunakan untuk melampiaskan kedengkian dan fitnah, polusi di wilayah budaya ini sangat melukai keluhuran budi pekerti bangsa Indonesia. Memang tidak semua seperti itu, saya melihat mayoritas masyarakat juga sangat kecewa dengan polusi budaya tersebut. Caicandna makian yang ada justru membangun nurani kita semua, nurani bangsa untuk bersatu menjaga moralitas ruang publik. Marilah kita bersatu menjaga mentalitas masyarakat sehingga kita bisa tetap melangkah maju, menjalankan transformasi bangsa. Menuju Indonesia Maju. Menuju Indonesia Emas 2045”, Tutupnya (Nopri)
