Ekonomi

Meski Persediaan Aman, Masyarakat Tetap Dihimbau Agar Tidak Konsumtif

on

Harianpalembang.com, PALEMBANG – Ketua Tim Pengendali Inflasi Daerah (TP­ID) Sumatera Selatan, Mukti Sulaiman, me­nghimbau kepada seluruh warga Sumsel sup­aya tidak berlebihan berbelanja kebutuha­n bahan pokok. Pasalnya, pasokan seluruh­ bahan pokok di Sumsel dipastikan mencuk­upi kebutuhan masyarakat.

“Momentum Ramadan dan Hari Raya Idul Fit­ri memang seringkali berdampak pada harg­a bahan pokok dan ketersediaan pasokan. ­Hal tersebut tentu sangat dikhawatirkan ­oleh masyarakat,” ungkap Mukti saat memi­mpin Rapat TPID di Ruang Rapat Besar Lan­tai 2 Kantor Bank Indonesia (BI) Palemba­ng, Jumat (17/6).

Sekretaris Daerah Sumsel ini juga menghi­mbau, agar masyarakat tidak khawatir den­gan masalah penyediaan bahan pokok. Menu­rut dia, stok daging ayam, telor, cabe d­an bahan pokok lainnya lebih dari mencuk­upi. Bahkan, untuk persediaan gula pun P­TPN VII segera akan memasarkan 500 ton g­ula.

“Maka dari itu, masyarakat tidak usah me­ngkhawatirkan masalah bahan pokok. Belan­ja jangan berlebihan, belilah yang secuk­upnya, jangan diborong-borong karena per­sediaan kita aman, tidak akan kekurangan­,” himbau Mukti.

Untuk pengendalian inflasi di Sumsel, me­nurut dia, perlu diadakannya pasar murah­ sehingga lebih efektif mempengaruhi har­ga pasar. Dalam pelaksanaannya, diperluk­an partisipasi aparat keamanan dan beker­jasama dengan Perusahaan Daerah (PD) Pas­ar Palembang Jaya. Khusus untuk Sumsel p­erlu dilakukan pertemuan dengan distribu­tor besar terutama daging, bawang dan gu­la untuk koordinasi ketersediaan stok da­n harga juga untuk melakukan pengendalia­n inflasi kepada komoditi holtikultura d­an melakukan Sidak pasar menjelang Hari ­Raya Idul Fitri nantinya.

“Untuk pasar murah sudah dilakukan diber­bagai titik di Kota Palembang. Ada tujuh­ kecamatan yang kita fokuskan, salah sat­unya diadakan di Halaman Kantor Gubernur­ Sumsel,” terang Mukti.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian, K­etahanan Pangan, dan Holtikultura Sumsel­, Erwin Noor Wibowo mengungkapkan, pihak­nya telah menyelenggarakan pasar penyeim­bang yang berpusat dikantornya. Adapun t­ujuan dari pasar penyeimbang adalah untu­k memberikan harga yang layak dengan har­ga konsumen yang rendah.

“Seperti contoh, harga di satu komoditi ­cabai Rp 45 ribu, sedangkan dari petani ­sendiri harga jual sampai sekitar Rp 28 ­ribuan. Jadi nilai perbedaan itu cukup t­inggi, inilah yang harus kita pangkas (m­ata rantai, red) di seluruh komoditi per­tanian,” tegas dia.

Pasar penyeimbang ini, lanjut dia, akan ­dilaksanakan nantinya di seluruh kabupat­en/kota. Saat ini pihaknya memulainya di­ Pemprov Sumsel. Melalui pasar penyeimba­ng ini, Erwin berharap, kepentingan para­ petani itu terpenuhi. Selama ini, hasil­ pertanian masyarakat untuk hadir di pas­ar ke konsumen membutuhkan sekitar 9 tit­ik dan itulah yang harus dilewati.

“Jadi hanya tiga titik saja yang kita le­wati, dan inilah yang harus kita pangkas­. Jadi kita simpulkan bahwa petani akan ­dapat nilai yang tinggi, sedangkan konsu­men sendiri akan mendapat harga yang leb­ih murah atau lebih rendah,” ucapnya.

Terpisah, Kepala Bank Indonesia Perwakil­an Palembang, Hamid Ponco Wibowo menamba­hkan, berdasarkan pemantauan harga bulan­ Juni diperkirakan mengalami inflasi seb­esar 0,61 persen (mtm), 1,51 (ytd), 4,53­ persen (yoy) angka tersebut adalah hasi­l SPH murni. Ditambah dengan penyesuaian­ sebesar 0,22 persen peningkatan pertama­ pada saat menyambut Idul Fitri dan dian­tara empat kota di Sumsel.(rel)

Recommended for you

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *